Usaha memisahkan pengantre di awal dengan gelang kurang membuahkan hasil, karena banyak massa berdatangan dan masuk ke anteran tanpa dicegah. Sistem pembelian yang awalnya diharuskan memakai kartu kredit pun dilaporkan tidak berlaku lagi. Karena banyaknya massa yang masuk tanpa kartu kredit, maka pembelian tunai pun dibolehkan.
"Pembelian tunai juga dibolehkan. Pengantrenya sangat banyak jadi panitia akhirnya juga menerima pembelian pakai uang," tukas Chiko, salah satu pembeli yang sudah berhasil mendapatkan BlackBerry Bellagio.
Kabar yang beredar, jatah BlackBerry diskon yang seharusnya hanya 1.000 unit melonjak jadi 1.500 unit untuk memenuhi permintaan massa. Panitia sendiri terkesan tutup mulut dan enggan memberi komentar tentang kericuhan yang terjadi.
Di sisi lain, sebagian pembeli mengaku membeli BlackBerry Bellagio diskon untuk dijual lagi. Seperti Chiko yang ingin mendapat keuntungan dari pembelian dengan harga diskon. Ia sendiri mengaku sudah memiliki BlackBerry Dakota.
"Lumayan kalau dijual lagi. Soalnya saya sendiri juga sudah pakai BlackBerry Dakota," tuturnya. Menurutnya, banyak pengantre yang berniat sama seperti dirinya.
Barangkali tergiur untung besar, antrean BlackBerry Bellagio berjubel dan akhirnya ricuh. Massa saling dorong. Korban berjumlah puluhan, namun wartawan dilarang mengambil foto para korban yang terpaksa digotong karena tak kuat berdesakan. Mereka dibawa ke belakang loket penjualan untuk dirawat.
Setelah puluhan atau mungkin bahkan ratusan polisi berdatangan dan susah payah membubarkan massa, keadaan mulai terkendali. Sekitar pukul 13.00 WIB, situasi di sekitar lokasi penjualan mulai tenang. Polisi masih tampak berjaga-jaga sampai sore hari.
Polisi masih mendalami masalah perizinan kegiatan penjualan Blackberry 'murah' di Pacific Place, Jakarta Pusat. Tidak cuma kena teguran, panitia terancam kena sanksi.
"Kayaknya tidak hanya berupa teguran. Masalah perizinannya akan terus kita dalami," kata Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Imam Sugianto saat ditemui di lokasi, Jakarta, Jumat (25/11/2001).
( fyk / ash )

0 comments:
Post a Comment